Tekanan Pasar Kripto, Bitcoin dan Ethereum Anjlok Hari Ini – Pergerakan pasar aset digital dalam 24 jam terakhir didominasi tekanan jual.
Mayoritas kripto utama bergerak serempak di zona negatif, dengan penurunan tajam yang bahkan mencapai dua digit.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya aksi jual dan sentimen kehati-hatian investor.
Pasar Kripto Terkoreksi Tajam dalam 24 Jam Terakhir
Berdasarkan data dari CoinMarketCap per Jumat, 6 Februari 2026, sejumlah kripto berkapitalisasi besar mengalami koreksi signifikan,
dipimpin oleh Bitcoin dan beberapa altcoin papan atas.
Harga Bitcoin tercatat melemah 13,22% ke level USD 63.620,08. Penurunan ini kembali menekan kapitalisasi pasar aset kripto
terbesar dunia tersebut dan turut menyeret sentimen pasar secara luas.
Tekanan juga dialami oleh Ethereum, yang anjlok lebih dalam sebesar 14,39% ke posisi USD 1.848,53.
Koreksi ETH yang lebih besar dibanding BTC mengindikasikan kuatnya aksi ambil untung di kalangan pelaku pasar.
Berbeda dengan kripto volatil, stablecoin cenderung bergerak stabil. Tether tercatat naik tipis 0,04% ke USD 0,9982,
mencerminkan perpindahan dana investor ke aset yang lebih defensif di tengah gejolak pasar.
Tekanan Pasar Kripto Altcoin Melemah, Pergerakan Bitcoin Bhutan Jadi Sorotan
Tekanan jual juga menghantam altcoin lainnya. Binance Coin turun 12,39% ke USD 612,33,
sementara XRP mencatat koreksi terdalam dengan penurunan 18,58% ke USD 1,23.
Stablecoin USD Coin relatif stagnan di USD 0,9998. Di sisi lain, Solana merosot 14,50% ke USD 79,02,
sedangkan TRON terkoreksi lebih ringan sebesar 4,56% ke USD 0,2699.
Koreksi tajam juga dialami Dogecoin yang turun 14,23% ke USD 0,08930, serta Bitcoin Cash yang melemah 13,32% ke USD 461,06.
Cardano pun ikut tertekan dengan penurunan 13,43% ke USD 0,2484.
Sementara itu, HYPE turun 7,05% ke USD 33,22, relatif lebih stabil dibanding kripto lain.
USDe bergerak mendatar dengan penurunan tipis 0,02%, sedangkan LEO menjadi yang paling tertekan
dengan koreksi 22,97% ke USD 6,82. CC turut melemah 8,18% ke USD 0,1622.
Di tengah tekanan pasar, perhatian investor juga tertuju pada langkah Bhutan yang memindahkan Bitcoin
senilai lebih dari USD 22 juta dari dompet pemerintah dalam sepekan terakhir.
Mengutip laporan Yahoo Finance, salah satu transaksi lima hari lalu terdeteksi mengarah ke alamat yang terkait dengan QCP Capital,
berdasarkan data Arkham.
Arkham mencatat bahwa Bhutan secara rutin menjual BTC dalam jumlah besar sejak mulai menambang pada 2019.
Portofolio kripto negara tersebut bahkan telah menyusut lebih dari 70%
dari puncak USD 1,4 miliar menjadi sekitar USD 412 juta, seiring koreksi pasar.
Meski demikian, menurut Bitcoin Treasuries, Bhutan masih tercatat sebagai pemegang Bitcoin pemerintah terbesar ketujuh di dunia.
Negara tersebut disebut telah meraup keuntungan lebih dari USD 765 juta dari aktivitas penambangan Bitcoin,
dengan puncak produksi terjadi pada 2023 saat mereka menambang sekitar 8.200 BTC.
Analis blockchain menilai bahwa perpindahan BTC terbaru kemungkinan besar merupakan penyesuaian kustodian atau alokasi internal,
bukan aksi likuidasi besar-besaran. Hal ini sejalan dengan pola serupa yang pernah dilakukan Bhutan
sebelumnya tanpa memicu gejolak pasar Tuna55 yang signifikan.