Antusiasme masyarakat memuncak pada hari pertama pembukaan untuk umum Singapore Airshow. Ribuan pengunjung memadati area Changi Exhibition Centre sejak pagi hari, menjadikan edisi kali ini salah satu yang paling ramai dalam sejarah penyelenggaraan pameran dirgantara tersebut.
Bagi Rafi Damar, kecintaannya pada dunia penerbangan sudah terbangun sejak lama. Sejak 2012, ia rutin menyambangi Singapore Airshow bersama sang ayah, bahkan rela terbang dari Jakarta demi menyaksikan deretan pesawat dari dekat. Namun, untuk edisi 2024 dan 2026, eksekutif logistik asal Indonesia itu tak perlu lagi menempuh perjalanan udara, setelah menetap di Singapura untuk urusan pekerjaan.
Dari semua air show yang pernah saya datangi, menurut saya tahun ini paling gila dari segi jumlah pengunjung, ujar pria berusia 28 tahun itu saat ditemui pada 7 Februari, hari pertama air show dibuka untuk publik.
Meski begitu, Rafi menilai pengelolaan massa pada pagi hari berjalan cukup tertib. Menurutnya, akses masuk dan arus pengunjung relatif lancar. Kendati demikian, situasi berubah menjelang sore hingga malam, ketika sebagian pengunjung mengeluhkan kesulitan meninggalkan area pameran.
Rafi mengaku selalu menyempatkan diri hadir karena Singapore Airshow menjadi satu-satunya ajang di Asia Tenggara yang menghadirkan koleksi pesawat dalam skala besar dan beragam. Indonesia tidak punya acara seperti ini. Air show besar lainnya ada di Paris atau Farnborough di Inggris, yang jaraknya jauh sekali. Dubai juga ada, tapi kenapa harus ke sana kalau Singapura begitu dekat dengan Indonesia? katanya.
Datang Lebih Pagi Demi Hindari Kerumunan
Sejak pagi, lautan manusia terlihat menyebar di area terbuka pameran. Meski jadwal resmi pembukaan pukul 09.30, area static display sudah bisa diakses publik sejak pukul 08.00. Hal ini dimanfaatkan banyak pengunjung untuk datang lebih awal dan menjelajahi kawasan pameran sebelum matahari kian terik.
Sebanyak 32 pesawat dipamerkan di darat, mulai dari pesawat komersial hingga jet militer. Salah satu keluarga yang datang lebih pagi adalah Roy Ang bersama istri dan anak mereka yang berusia tiga tahun. Mereka tiba sekitar pukul 09.00 dan mengaku ini adalah pengalaman pertama menghadiri Singapore Airshow.
Kami ingin anak kami melihat langsung pesawat-pesawat terbang saat atraksi udara. Itu pengalaman yang tidak bisa didapat setiap hari, kata Roy.
Pria berusia 48 tahun yang bekerja di bidang penjualan dan pemasaran itu menilai akses menuju lokasi cukup nyaman. Shuttle bus yang berangkat dari Singapore Expo datang hampir setiap menit, membuat waktu tunggu relatif singkat.
Namun, ia berharap penyelenggara menambah area berteduh bagi pengunjung. Cuacanya sangat panas, terutama untuk anak kecil. Anak kami bahkan mulai kehilangan minat karena kepanasan, ujarnya.
Akses Masuk Lancar, Atraksi Udara Singapore Airshow Jadi Favorit
Pantauan di Singapore Expo sekitar pukul 08.30 menunjukkan lebih dari 100 orang sudah mengantre melewati pemeriksaan keamanan dan menunggu shuttle bus. Antrean bergerak konstan, dengan beberapa bus siaga mengangkut penumpang.
Rawshan Haniffa, seorang insinyur berusia 55 tahun, datang bersama putranya yang berusia 11 tahun. Ia mengatakan nyaris tidak menunggu lama untuk naik bus. Sang anak, menurut Rawshan, sangat terkesan dengan atraksi udara yang menampilkan asap warna-warni dari tim aerobatik Bayi milik People’s Liberation Army Air Force.
Anak saya terpukau dengan manuver dan warna asapnya, katanya. Meski demikian, Rawshan berharap komentar selama atraksi udara bisa dibuat lebih informatif. Penampilannya luar biasa, tapi akan lebih menarik jika penjelasannya lebih membumi. Jangan hanya bicara soal angka G-force, jelaskan juga apa artinya bagi orang awam, ujarnya.
Kunjungan Perdana Menteri dan Makna Diplomasi Singapore Airshow
Hari publik pertama Singapore Airshow juga dihadiri Lawrence Wong. Perdana Menteri Singapura itu menyaksikan pertunjukan udara sebelum berkeliling stan pameran dan melihat langsung berbagai jenis pesawat yang dipamerkan.
Dalam unggahan di Facebook pada hari yang sama, Wong menyebutkan bahwa ia merasa terharu melihat begitu banyak keluarga menghadiri acara tersebut. Ia juga berbincang dengan personel Republic of Singapore Air Force, serta perwakilan dari enam angkatan udara asing yang turut ambil bagian.
Pertemuan seperti ini membantu membangun pemahaman profesional dan mendorong dialog yang konstruktif lintas negara, tulis Wong. Ia berharap Singapore Airshow dapat terus menginspirasi generasi muda, memperkuat kemitraan internasional, dan memperdalam peran Singapura sebagai pusat aviasi global yang tepercaya.
Tantangan Saat Kepulangan
Meski pengalaman di dalam area pameran dinilai positif, tantangan muncul ketika pengunjung mulai meninggalkan lokasi. Antrean shuttle bus menuju Singapore Expo mengular hingga area static display. Situasi diperparah oleh hujan mendadak yang membuat banyak pengunjung tanpa payung basah kuyup.
Pengamatan menunjukkan waktu tempuh dari ujung antrean hingga naik bus bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Keluhan terdengar terkait lamanya penantian serta jalur berpagar yang sempit, menyulitkan pengunjung dengan stroller atau barang bawaan besar.
John Lim, pensiunan berusia 68 tahun, mengaku kelelahan. Kalau saya tahu harus berdiri selama ini, mungkin saya akan pulang lebih awal, katanya.
Keluhan serupa sebenarnya juga muncul pada penyelenggaraan tahun 2024, menandakan tantangan logistik yang masih perlu dibenahi.
Singapore Airshow 2026 berlangsung pada 3–8 Februari. Empat hari pertama dikhususkan bagi pelaku industri dan mencatat kehadiran sekitar 65.000 pengunjung bisnis. Akhir pekan kemudian dibuka untuk publik. Sebagai perbandingan, pada edisi 2024, lebih dari 60.000 masyarakat umum tercatat menghadiri ajang ini, sebuah angka yang kembali terlampaui pada edisi kali ini. Tuna55