
Selepas dari bencana banjir rob yang telah berlalu, kota Pontianak kembali lagi diuji. Bukan karena air asin yang merangsek
ke dalam rumah, melainkan adanya asap tipis yang juga merambat secara pelan, lalu juga menebal. Pada Kota Pontianak,
Provinsi dari Kalimantan Barat seolah saat ini telah berganti wajah. Dari air rob yang menuju sesak napas.
Perubahan yang sangat cepat, tanpa ada jeda bagi napas para warga.
Marini, berusia 26 tahun, yang juga tinggal di Kecamatan Pontianak sebelah Tenggara. Sudah 1 minggu ini mengkeluhan terucap dengan lirih.
Tong tempayan yang kosong. Air hujan yang habis. Cuci juga pakaian bergilir selama dua hari sekali. Kini,adanya
bencana seperti kabut asap yang juga telah datang dengan bersamaan. Malam ini terasa sangat berat.
Udara yang juga menusuk dada. Debu yang sangat halus sudah masuk kedalam rumah.
Parah ini. Air hujan telah habis.Malahan saat ini kabut asap buat kita susah untuk bernapas.
Padahal sudah dua minggu yang lalu itu ada banjir rob serta juga hujan, ucap Marini.
Keluhan itu juga bukan secara tunggal. Suara yang serupa juga bergaung ketika ada lintas lorong. Kota yang juga
sudah padat penduduk ini sendiri juga merasakan bahwa adanya dampak secara ganda. Krisis seperti air
yang bersih bersua seperti kabut asap. Dua bencana yang telah datang secara bergantian, tanpa adanya transisi.
Marini sendiri juga telah menambahkan ada beban lainnya. dalam Kebutuhan air minum yang juga bisa di katakan melonjak.
Galon kali ini telah bertambah dua kali lipat. Dari biasanya itu hanya enam sekarang sudah menuju dua belas.
Pilihan sempit. Air minum itu sama sekali tidak bisa untuk ditunda.
Pemerintah setempat juga hanya cuma memberikan imbauan. Anak yang sakit batuk di akibat dari kabut dari asap ini, ucap juga sambil mengeluh.
Bencana seperti kabut asap ini juga menjadi tamu yang cukup lama. Datangnya itu saban tahun. Polanya juga sering berulang.
Bedanya itu, ekonomi yang ada di warga kian makin rapuh. Biaya hidup yang naik, daya tahan yang turun. Asap juga terasa sangat mahal.
Di Kecamatan Pontianak Barat, Surianila usia 32 tahun menghela napas panjang. Ucapan keluar berlapis emosi.
Tahun ke tahun juga begini terus. Bedanya pada tahun ini juga kondisi ekonomi jauh lebih parah lagi.
Kabut asap seperti Lebaran. Tiap tahun itu juga ada terus. sama sekali tidak ada inovasi apa-apa dari pemerintahan setempat,
kata dari perempuan yang mandiri yang juga telah bekerja secara serabutan itu.
Ungkapan yang seperti Lebaran itu juga menyindir secara pahit. Bencana seperti kabut asap itu hadir secara rutin, penuh dengan kepastian.
Tanpa adanya undangan, tanpa adanya solusi yang baru. Surianila sendiri juga bahkan harus berutang demi untuk berobat anaknya.
Ngutang saya untuk berobat anak, gara-gara adanya kabut asap ini,katanya yang juga meminta kepada para pemerintah yang ada
didaerah maupun juga pusat dalam memperhatikan dalam bencana ini juga bukanlah cuma menjadi sebuah proyek secara belaka.
Kalimat yang cukup sederhana, tapi berdampak besar. Karhutla juga bukanlah sekadar isu dari lingkungan.
Dia telah menjelma dari krisis kesehatan, ekonomi, dan juga serta martabat hidup. Kota Pontianak ini juga,
penduduk paling banyak diKalimantan Barat, dan juga telah menjadi panggung yang juga telah berdampak paling jauh terasa.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak mencatat sebaran titik panas.
Kota Pontianak tercatat rendah. Fakta itu kerap diulang pejabat. Namun bagi warga, asap tetap hadir nyata. Masuk rumah, paru-paru, dompet.
Kebakaran lahan memang sempat muncul di Kecamatan Pontianak Tenggara serta Kecamatan Pontianak Selatan.
Api cepat dipadamkan. BPBD bergerak sigap. Respons lapangan patut dicatat. Namun asap tetap menggantung.
Artinya itu sederhana. Asap juga tidak mengenal dalam batas dalam administrasi. Arah angin yang juga telah
membawa sisa dalam pembakaran dari beberapa daerah yang ada sekitar. Kotadalam menerima kiriman itu juga tanpa adanya filter.
Geografi dari Kota Pontianak itu juga bisa berperan secara besar. Posisi yang juga rendah, lintasan seperti angin,
serta warga yang padat hunian juga memperparah dampak. meskipun sumber api itu jauh, efeknya itu terasa sangatlah dekat.
Wali dari Kota Pontianak, bernama Edi Rusdi Kamtono, juga turut dalam menyampaikan klaim untuk kesiapsiagaan.
dan juga Pemantauan secara rutin yang juga bisa disebut telah berjalan sejak pada awal pada musim kemarau.
Petugas juga sudah turun untuk bisa dalam monitoring dari yang sebelum itu karhutla. Saat pada muncul api,
para petugas juga sudah siap untuk bisa dalam memadamkan.
Klaim itu juga disertai dari beberapa data indeks standar dalam pencemaran udara . Dinas dari Lingkungan Hidup sendiri
juga telah mencatat kategori yang sedang. Angka itu juga masih tampak aman pada atas kertas.
Namun ada realitas yang ada di lapangan justru berbeda rasa Tuna55.
Kategori yang juga sedang tetap bisa menyulitkan beberapa kelompok yang juga rentan. Anak anak yang batuk. Lansia juga sesak.
Produktivitas mulai menurun. Biaya untuk kesehatan juga naik. Masker juga menjadi kebutuhan harian. Imbauan juga kembali lagi diulang.
Sementara pada waktu menggunakan masker. Jika sangat memungkinkan juga agar mereka bisa untuk beraktivitas pada dalam ruangan,
ucap Edi Rusdi Kamtono tetap mengimbau.
Kalimat normatif itu jua saat ini masih. Aman. Tanpa adanya risiko seperti politik. Namun para warga juga bertanya pelan.
Sampai kapan berada di dalam ruangan. Sampai kapan juga masker ini menjadi solusi utama?